Menjadi seorang Ibu merupakan harapan dan cita-cita  tertinggi bagi kaum perempuan untuk menjadi sosok yang sempurna. Panggilan “Ibu”  adalah panggilan yang selalu ingin didengar dan didapatkan oleh kaum hawa. Begitu mulia dan berharganya nama Ibu.

Mungkin bagi sebagian perempuan, untuk menjadi seorang ibu sangatlah mudah. Mereka tinggal menikah, lalu hamil dan melahirkan, kemudian bayinya dirawat dan dibesarkan sehingga mereka bisa memanggil nama ibu dan ayah. Tapi tidak sedikit bagi perempuan lainnya yang berpikiran lebih jauh. Menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya, tidaklah semudah itu. Mereka perlu belajar dengan ilmu-ilmu parenting yang didapatkan dari berbagai sumber dan menerapkannya pada putra putrinya. Begitupun dengan saya, membeli beberapa buku parenting dan browsing online tentang parenting.

Tetapi buku dan ilmu itu  kadang-kadang tak terpakai karena kondisi dan keadaan yang dihadapi  tidak sama dengan teorinya. Strategi, kesabaran, emosi ternyata sangat menentukan dan akan selalu dibutuhkan oleh seorang ibu dalam mengasuh anak-anaknya.

Saya seorang ibu dari 3 orang anak. Pengalaman yang akan saya sampaikan pada saat menjadi ibu untuk anak pertama saya. Diawali dari saat pertama kali mengetahui bahwa saya hamil, betapa bahagianya. Bermacam-macam imajinasi melayang layang dipikiran saya. “Sebentar lagi aku akan menjadi Ibu”, kata-kata itu berulang-ulang terucap dibibir dan di hati saya, sambil mengelus-elus perut yang masih rata. Mual, muntah, tendangan di perut, tidur tak nyenyak semua dilewati dengan perkasa selama 9 bulan.

Saya juga masih ingat, waktu saya mengelus-mengelus perut yang mulai membesar sambil membacakan surah surah alquran, harapan dan keinginan besar juga terselip dalam doa-doa tersebut.

Bahkan saya juga berjanji akan selalu menjaga dan membimbingnya dalam situasi apapun dan akan selalu memberikan yang terbaik. Berapa banyak janji yang saya ucapkan sampai sayapun sendiri lupa untuk mengingatnya. Sampai tibalah bagi sang bayi untuk hidup di dunia yang baru. Dalam dekapan, saya akan selalu melindungi dan memberikan yang terbaik bagi si mungil tersebut.

Pembuktianpun dimulai dari waktu kelahiran si bayi. Benarkah saya sebagai ibu akan menepati janjinya. Satu bulan, dua bulan sampai satu tahun, saya menikmati lucunya si bayi. Semua perubahan dan pertumbuhan dipantau dan dinikmati. Mulai dari belajar tengkurap, merangkak, memanggil nama ibu, sampai belajar berdiri dan berjalan. Dua tahun hingga tiga tahun, mulai mucul keisengan si anak. Saya mulai diuji kesabarannya. Belum lagi jika ada kegiatan pertemuan dan si anak mulai berinteraksi dengan anak lain. Sampai terjadi perebutan mainan dan pertengkaran kecil. Apalagi jika ibu dari anak- anak lain ikut campur dan mengatai anak saya. Ujung-ujungnya yang menjadi sasaran kekesalan adalah anak saya sendiri.

Umur 4 hingga  6 tahun, menjadi usia berkembang anak. Tahapan berpikir dan membela diri mulai ada dalam diri si anak. Ketika anak mulai membantah, bahkan terpengaruh oleh sikap tidak baik dari teman-temannya di lingkungan sekolah atau rumah. Belum lagi, mainan yang berserakan setelah rumah dirapikan dan dibersihkan. Rasa kesal dan emosi kadang ikut terluapkan saat saya mengingatkannya. Bahkan cubitan-cubitan kecil di pantat sering saya lakukan, supaya dia nurut dan berperilaku yang baik.

Umur 7 sampai 12 tahun, ketika si anak mulai mengenal lebih banyak dunia mereka dan lebih banyak di luar rumah bermain dengan teman-temannya bahkan kadang tidak menghiraukan omongan orang tua. Mereka mulai menyelami dunianya. Omelan dan cubitan di paha tetap saya lakukan.

Tiba-tiba suatu malam, saya ingat janji itu. Semua hal terbaik akan diberikan, mulai dari perlindungan dan bimbingan. Sudahkan itu saya buktikan?

Saya menjadi sadar, berapa banyak omelan dan cubitan yang telah saya berikan pada si kecil hanya supaya mereka menjadi makluk yang penurut.Berapa banyak air mata yang ditumpakan oleh si kecil di saat saya memarahi dan mengatai mereka karena nilainya jelek. Hati dan wajah polosnya tidak pernah mengerti dengan omelan-omelan saya, bagi mereka itulah dunianya. Rasa cubitan itu mungkin akan hilang tapi ingatan mereka akan selalu membekas. Bagaikan tembok yang di paku, begitu paku dicabut yang tersisa hanyalah bekas lubangnya.

Cukup sudah apa yang saya lakukan, di saat dia  tidur, saya tatap wajahnya. Dalam hati nuraniku, pantaskah mereka mendapatkan semua itu? Dimana janji-janji yang pernah saya ucapkan disaat kehamilan dulu. Padahal dulu, dengan yakin saya akan bisa mengatasi semua hal meski menghadapi situasi yang sulit. Tapi baru direpotkan dengan kejahilan dan keruwetan  dari si kecil saja omelan dan tangan langsung bergerak.

Saya selalu mempunyai alasan dan berdalih, bahwa saya melakukan semua itu untuk kebaikannya juga. Dia harus dididik keras agar bisa menghadapi masalah kehidupan nantinya.

Saya tidak tahu kalau kekerasan semacam itu membentuk anak menjadi pribadi yang keras. Dia jadi  mudah membentak-bentak teman-temanya, mempunyai sifat yang egois bahkan menjadi pribadi yang gampang main tangan. Itu bukan impian saya.

Senyuman, nasehat dan teladan itulah yang mereka butuhkan untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang sempurna. Memang tidak mudah melakukan itu semua. Emosi saya yang kadang-kadang tidak stabil karena pengaruh rasa lelah setelah bekerja mengurusi rumah, atau lelah setelah bekerja di luar rumah turut andil dalam mengasuh anak-anak. Hal utama yang harus saya lakukan dan selalu tanamkan dalam diri adalah rasa syukur dan nikmat.

Bersyukur bahwa saya bisa menjadi ibu karena adanya mereka, tanpa adanya makluk kecil itu, tidak akan ada panggilan ibu dalam nama saya. Setelah itu baru nikmat, makluk kecil itu tidak lama lagi akan menjadi pribadi yang dewasa. Keruwetan, kejahilan dan kenakalannya tidak akan bisa diulangi lagi.

Hilangkan rasa lelah dalam diri kita dengan mencuri waktu untuk menenangkan dan merilekskan tubuh. Untuk sementara, biarkan rumah dalam keadaan berserakan, biarkan anak-anak berteriak dan mengekspresikan dirinya sendiri. Biarkan mereka memperoleh nilai seadanya dan sesuai kemampuannya. Toh, pada saatnya nanti mereka akan mengerti sendiri arti dari nilai itu dan berusaha untuk memperbaikinya. Setelah kepenatan dan rasa lelah di tubuh kita hilang, maka emosi kita sebagai ibu juga akan terkontrol.

Kita bisa membimbing anak-anak kita dengan lebih sabar, dan mampu mencarikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh mereka. Dengan menepati janji-janjinya sendiri akan menjadikan sosok ibu yang sempurna.